Minggu, 29 Maret 2009

Perkebangan TI Dalam Ekonomi

Sejumlah studi empiris tentang dampak TI bagi organisasi bisnis itu sendiri sebenarnya telah banyak dilakukan sejak pertengahan era 1980’an. Penelitian tentang dampak TI pada organisasi bisnis berakar pada topik penelitian mengenai information technology investment and firm performance yang selama bertahun-tahun telah menjadi perdebatan mengenai apakah investasi pada TI memiliki dampak yang positif dengan ukuran-ukuran kinerja ataupun produktifitas.
Penelitian yang dilakukan sejak dua dekade lalu menghasilkan temuan yang mixed tentang manfaat TI tersebut. Ketika TI diyakini memberi manfaat bagi organisasi bisnis yang memilikinya, sejumlah penelitian justru menghasilkan temuan berupa ketiadaan hubungan antara investasi perusahaan pada TI dengan peningkatan produktifitas, suatu situasi yang disebut sebagai productivity
paradoks (Dedrick, Gurbaxani & Kraemer, 2002)
Penelitian yang dilakukan tersebut, secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yaitu studi yang dilakukan pada level perusahaan dan studi yang dilakukan pada level negara. Hasil dari sejumlah penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel berikut, yang memperlihatkan bahwa investasi perusahaan bagi TI tidaklah selalu diikuti dengan peningkatan kinerja/produktifitas.
Pada studi level negara, di Amerika Serikat, Oliner & Sichel (1994, 2000) menemukan bahwa penggunaan teknologi informasi seperti computer hardware, software dan perangkat komunikasi berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan produktifitas pada era pertengahan tahun 90’an. Namun demikian, Gordon (2000) dalam Simon & Wardop (2002) mengemukakan bahwa teknologi informasi di AS tidak membawa dampak yang luas terhadap pertumbuhan output, sebagaimana yang ditimbulkan oleh gelombang inovasi besar pada abad lalu seperti ditemukannya listrik dan mesin dengan pembakaran internal.
Di Australia sendiri, penelitian oleh Simon& Wardop (2002) menunjukkan Australia mengalami peningkatan pertumbuhan output yang signifikan sehubungan dengan penggunaan teknologi informasi dalam organisasi. Lebih jauh lagi Jorgenson (2004) mencoba untuk melihat dampak TI pada pertumbuhan ekonomi negara-negara G7. Ia menyatakan bahwa sejak 1995, terdapat investasi yang besar terhadap perangkat TI pada negara-negara G7 dimana hal ini membawa kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut.

MEREALISASIKAN DAMPAK POSTIF TI;
PEOPLE, PROSES & BUSINESS MODEL
Dengan mengamati praktek-praktek yang telah dilakukan oleh organisasi bisnis yang berhasil dalam memanfaatkan TI, maka untuk dapat merealisasikan
dampak positif TI bagi organisasi bisnis tersebut, paling tidak dapat dilakukan melalui tiga hal yaitu: people, proses & business model. Dalam kaitannya dengan people, peranan dari TI
telah berbeda dengan peranan mesin di era industri yang digunakan untuk menggantikan tenaga manusia. Meski penggunaan yang mula-mula dari komputer
adalah diarahkan pada factor substitution, yaitu menggantikan low skill clerical worker melalui otomatisasi proses kerja. Dalam organisasi modern, TI tidak semata-mata menggantikan kekuatan otot ataupun kemampuan berpikir manusia. Dari hasil analisa makroekonomi multi tahun dari ratusan perusahaan, Strassmann dalam Malhotra (2005) menegaskan bahwa bukanlah komputer yang penting, tetapi apa yang dilakukan manusia dengan komputer tersebut adalah yang terpenting. Sebagaimana bukanlah sebuah palu yang dapat mendirikan sebuah rumah yang baik, tetapi tergantung pada ditangan siapakah palu itu dipegang, sehingga dapat menghasilkan sebuah rumah yang baik. Dari sini semakin jelas terlihat bahwa manfaat yang dihasilkan oleh teknologi, tidaklah semata berasal dari teknologi itu sendiri, tetapi dari apa yang dilakukan oleh manusiadengan teknologi tersebut. Terkait dengan proses, manfaat yang didapatkan oleh organisasi bisnis dari TI terletak pada bagaimana organisasi tersebut menggunakannya tidak sekedar untuk otomatisasi, namun juga untuk mentransformasi proses bisnis, hingga mengubah atau menciptakan model bisnis yang sesuai manakala aktifitas kerja dan berbagai proses bisnis telah didukung TI.
Hammer & Champy dalam Hartono (2005) mengidentifikasi kegagalan investasi TI untuk memberikan dampak terhadap peningkatan kinerja keuangan perusahaan karena implementasi TI dianggap sekedar mengotomatisasi kegiatan tradisionil yang ada. Menurut Hammer, untuk memberikan manfaat investasi TI harus digunakan untuk mengubah secara revolusioner proses bisnis yang ada dalam organisasi. Pendekatan ini disebut sebagai Business Process reengineering (BPR), dimana BPR ini bersifat fundamental, radikal, dramatis serta berorientasi pada proses. Bila ditinjau dari perkembangan ilmu manajemen, dampak luar biasa dari penemuan teknologi seperti listrik dan mesin-mesin pada abad industri terhadap kemajuan industri tidaklah melulu disebabkan karena organisasi memiliki mesin-mesin tersebut. Organisasi bisnis pada masa itu juga melakukan perubahan proses kerja untuk dapat mewujudkan keunggulannya, misalnya melalui diterapkannya division of labor. Sehingga tidak heran di abad informasi keilmuan manajemen memperkenalkan istilah teamwork, interconnection, dan shared information sebagai suatu inovasi dari ilmu manajemen untuk mengadopsi teknologi dalam proses kerja. (Senn, 2004 ).
Carr dalam artikel kontroversialnya IT Doesn’t Matter yang dipublikasikan melalui Harvard Business Review (2003) menyoroti kemampuan TI untuk mendeliver keunggulan kompetitif yang semakin memudar. Beberapa dasawarsa lalu bank yang menerapkan online banking dapat memiliki keunggulan kompetitif dan merebut hati nasabah. Namun saat ini teknologi ini telah dimiliki semua bank. Demikian juga dengan Reuters yang memiliki sistem TI yang tidak dapat disaingi pada dasawarsa lalu, namun kini bahkan surat kabar lokal sekalipun juga dapat memiliki jaringan yang mendunia melalui teknologi internet. Carr (2003) juga menyoroti kecenderungan
organisasi bisnis pada masa sekarang yang terlalu mengandalkan vendor perangkat lunak ataupun perangkat keras hingga konsultan TI agar organisasi
bisnis dapat tetap up to date dengan perkembangan TI, dibandingkan dengan berupaya untuk melakukan inovasi sendiri. Ketergantungan ini mengakibatkan setiap organisasi bisnis cenderung memiliki sistemdan teknologi yang seragam, sehingga selama tidak dilakukan inovasi maka tidak akan ada nilai lebih yang dapat ditampilkan oleh suatu organiasi bisnis bila dibandingkan dengan pesaingnya. Kondisi ini juga didukung dengan praktek organisasi bisnis selama ini dimana dari total pembelanjaannya pada TI, persentase terbesar adalah untuk pengadaan komoditas berupa berbagai perangkat dan hanya sedikit yang mengalokasikan dana untuk upaya menemukan inovasi atau melakukan proses kreatif dari berbagai perangkat tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar